Senin, 02 April 2018

Cara Abu Bakar mengangkat Bilal

Darah itu belum kering semua, membuat noktah-noktah merah berbeda dikulit hitam legamnya. Lelaki yang sekarat itu adalah Bilal bin Rabbah. Matanya tak lagi jelas melihat, entah sakit seperti apa yang ia rasakan, tubuhnya yang kurus bertulang-tulang itu terkoyak oleh siksa si majikan.


“Berhentilah wahai Umayah! Demi Lata, ia tidak akan disiksa lagi sesudah hari ini. Bilal adalah bagian dari kita, Ibunya adalah budak kita. Ia tidak akan rela menjadikan kita sebagai bahan pembicaraan dan bahan tertawaan kaum Quraisy sebab keislamannya” seru salah seorang yang kasian melihat Bilal.


Umayah pun juga sudah lelah menyika Bilal, seberat apapun dia menyiksa! Iman itu masih tegak disana. Hingga di ujung putus asanya.. angin segar itu datang. Abu bakar datang menawar budak Habasyah itu. Sumringah wajah Umayah, dia tau sekali, menjual Bilal lebih menguntungkan daripada harus membunuhnya.

Lelaki mulia itu meraih tangan Bilal, mengajaknya pada kemerdekaan dan kemuliaan. “Ambillah ia! Demi Lata dan Uzza, andai engkau hanya mau membelinya dengan satu keping emas pun, aku pasti memberikannya” kata Umayah mantan majikan Bilal. Celotehan sampah dari orang hina yang tidak perlu dijawab. Namun Abu Bakar mengerti sekali seni dalam berdakwah, untuk membesarkan hati saudaranya Abu bakar pun menjawab “Demi Allah! Andai kamu tidak mau menerima kecuali seratus keping emas, maka aku akan membayarnya!”


Hari itu Abu Bakar menyentuh hati Bilal dengan ucapannya, ucapan mulia yang mengangkatnya menjadi raja atas dirinya sendiri. Maka menjadi suatu yang mengherankan jika hari ini orang yang mengaku bermanhaj salaf namun sibuk mengkritik sana sini, sibuk menjatuhkan saudaranya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar