Siang itu tidak seperti biasanya, lelaki gagah yang selalu menyapa orang yang dilewatinya itu sedang tidak ramah. Dia berjalan setengah berlari menghempaskan kaki kuatnya mengguncang bumi.
Apa gerangan yang sedang terjadi?
Apa gerangan yang sedang terjadi?
Singa itu mengamuk, mengaung dan hendak menghajar orang. Ini diawali oleh seorang wanita mantan budak ‘Abdullah bin Jud’an At-Taimi yang mengadu padanya.
“Hai Abu Umarah, kalau saja tuan tadi melihat apa yang dialami kemenakanmu, Muhammad, atas perbuatan Abu Jahal. Dia menemui kemenakanmu disini, lalu menyakitinya, mencaci maki, dan mencelanya habis-habisan, sesudah itu pergi, sedang Muhammad tidak berkata sepatah katapun kepadanya” adu wanita itu
Geram lelaki perkasa, tidak terima kemenakannya dihinakan Abu Jahal. Orang arab memang begitu, tidak pandang siapa lawan, jika keluarga sudah dihina maka yang tersisa hanyalah pembalasan.
Lelaki itu mendapati Abu Jahal sedang duduk duduk di emperan Ka’bah dengan beberapa temannya, tidak ada ragu dan mengurungkan niat ia tetap maju , mata orang-orang sudah memusat padanya, melihat wajah lelaki itu merah, orang-orang dengan asyik dan penasaran menunggu tontonan apa yang akan terjadi.
Abu Jahal menyambutnya dengan senyuman, seakan lupa apa yang sudah dilakukannya pada kemenakan lelaki itu.
Masih dengan pola jalan yang sama, ketika sudah ada di depan wajahnya lekaki itu mengangkat busur panahnya dan Plookk!! Busur panah itu mendarat dan menyobek kulit Abu Jahal
“Apakah kamu mencaci-maki Muhammad?! Aku sekarang mengikuti Agamanya dan mengucapkan apa yang dia ucapakan! Halangi aku kalau kalian berani!” lelaki itu berteriak menantang
Beberapa orang dari Bani Makhzum yang melihat hendak mengeroyoknya, namun melihat mata lelaki itu sungguh-sungguh tidak gentar, Abu Jahal berkata “Biarkan saja Abu Umarah! Aku Menang, aku telah mencaci-maki kemenakannya dengan sangat buruk sekali”
Begitu seterusnya, Abu Umarah memeluk Islam dan mengikuti ucapan nabi-Nya.
Luka dan kesedihan Muhammad atas perbuatan Abu Jahal hilang seketika setelah mendapati pamannya, Abu Umara Hamzah menyatakan keimanannya. Allah mengganti sakit hati dan semakin sempitnya kehidupan kaum muslimin di Makkah dengan kekuatan singa padang pasir, Hamzah bin ‘Abdul Muthalib.
Begitulah keburukan yang dialami Muhammad atas perlakuan Abu Jahal mendatangkan banyak kebaikan untuk Hamzah dan umat. Terkadang Allah merahasiakan dibalik keburukan itu terdapat kebaikan yang banyak.
فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡٔٗا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرٗا كَثِيرٗا ١٩
“Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”
QS. An-Nisa’: 19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar