Pagi itu dunia terasa gelap kembali, seakan malam sudah datang sebelum seharusnya. wafatnya cahaya Allah adalah cobaan dan kesedihan yang tidak dapat dibedung lagi. Umar ibn Khaththab yang dikenal keras dan tegas pun menjadi linglung pada hari itu. Patah hatinya setelah kehilangan sandaran dalam berpijak.
Dia mengacungkan pedang dihadapan para sahabat seraya berkata “sesungguhnya Rasulullah tidak wafat sehingga Allah menghabisi orang-orang munafik” ancam Umar kepada siapa saja yang mengatakan rasul telah wafat.
Sungguh kesedihan pada hari itu sudah teramat dalam, Utsman hanya diam dan menangis teringat bahwa Rasul pernah bersabda “Wahai manusia sekalian, aku mendengar bahwa kamu semua khawatir akan kematian nabimu, apakah ada nabi sebelumku yang kekal ditengah kaumnya, sehingga akupun kekal ditengah kalian? Ketahuilah.. akupun akan bertemu Rabb-ku”
Hati manusia sedang sesak tak ada yang dapat menggambarkan kesedihan yang terjadi kecuali hanya air mata jatuh, jiwa tergoyah merasakan kehilangan yang teramat dalam, disaat itu pula Abu Bakar menunjukan keteguhan iman yang telah ditanam Muhammad pada dirinya. Abu Bakar yang datang kemudian masuk ke kamar Aisyah, membuka wajah nabi kekasihnya, menciuminya lalu menangis. Kemudian Abu Bakar keluar dan menenangkan Umar, mengucap Hamdalah kemudian dia berkata
“Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa menyembah Allah, maha Allah hidup tidak mati”
Abu Bakar membacakan firman Allah
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡۚ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? ..” Maka orang-orang menangis terisak-isak, mereka membacanya dilorong lorong kota madinah, seakan ayat tersebut baru saja turun.
Kekuatan imannya membuat ia tetap tegar menghadapi kesulitan yang paling mengiris hati umat ini. Disaat Umar hilang kesadaran, Utsman terdiam tak mampu berkata-kata, Ali menjadi lumpuh. Abu Bakar ash Shidiq, sempuarna imannya dan luas ilmunya menjadi penolong Allah. Yang paling mudah menangis saat membaca Al-Quran, dan yang paling tegar saat puncak kesedihan menerpa, menjadi panutan sahabat setelahnya.
Kamis, 22 Maret 2018
Tegarnya Abu Bakar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar