Cemas dan penasaran, itulah yang terbesit di benak Khadijah binti Khuwailid saat sang suami Muhammad pulang dalam keadaan menggigil dan ketakutan. “selimuti aku, selimuti aku” pinta Muhammad dalam takutnya, tanpa banyak bertanya sang istri lantas menyelimutinya. Begitulah Khadijah istri Rasulullah yang mulia, kecerdasan dan kasih sayangnya nampak oleh siapa saja yang melihatnya.
Kecerdasan membuat ia memendam rasa ingin tahunya, tak tega rasanya mengejar pertanyaan ketika suami sedang gemetar ketakutan. Khadijah, bersamanya hilang setengah kesulitan. Barulah setelah ketakutan itu hilang, dari lisannya yang mulia Nabi menjelaskan apa yang telah dialaminya.
“Aku benar-benar menghawatirkan diriku” Nabi membagi beban kepada istrinya
Khadijah berkata dengan lembutnya “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, karena kamu adalah orang yang menyambung silaturahim, membantu orang lain, memberi mereka yang tidak mampu, memuliakan tamu, dan membantu saat tertimpa musibah”
kemudian Khadijah membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal.
Khadijah adalah tempat Nabi berbagi masalah, tempat yang teduh saat hati terasa panas, tempat yang luas saat kesempitan menghampiri, sang istri adalah tempat dimana kepercayaan itu ada dan tempat untuk berbagi. Jika dewasa ini orang orang lebih suka pergi ke psikiater untuk berbagi dan menyelesaikan masalahnya, maka dimana pemeran khadijah pada hari ini?
Wanita mulia ini senantiasa menjadi sandaran nabi dalam lelahnya, hingga tahun-tahun kesedihan itu datang, 620 M tatkala mega merah itu mulai tampak, pertanda sang surya akan tenggelam, meninggalkan kesedihan dalam diri nabi, telah pergi sandarannya selama ini.. telah pergi cintanya... Khadijah Istri Muhammad
Ya Allah, Rahmatilah ibunda kami. Hanya kepada-Mu lah tempat bersandar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar