“Tidak ada seorangpun yang mengikuti jejak-jejak Nabi saw di tempat-tempat persinggahan beliau sebagaimana Ibnu Umar” begitu tutur Ummul mukminin Aisyah menggambarkan betapa ittiba’nya ayah Bilal. Abdullah ibn Umar.
Apa saja yang dilakukan Rasulullah pastilah Ibn Umar menirunya dengan detail, dimana Nabi pernah melakukan sholat di suatu tempat, maka Ibn Umar akan sholat di tempat yang sama, sebagaimana Nabi berdoa dan makan seperti itupula Ibn Umar berdoa dan makan.
Dengan hati yang terbakar Abdullah bin Umar mendatangi anaknya yang seorang faqih Bilal bin Abdullah bin Umar, dan mencercanya. “Aku telah menyampaikan kepadamu Hadits dari Rasulullah akan tetapi engkau justru berani (membantah)!” marah Ibnu Umar karena mendapati ucapan Bilal anaknya yang menyelisihi Nabi.
Hari itu Ibnu Umar menyampaikan hadits
إذا استأذنت احدكم امرأته إلى المسحد فلا يمنعها
“Jika istri kalian meminta izin pergi ke masjid, maka janganlah menghalangi”
Tetapi dengan mengejutkan Bilal bin Abdillah mengatakan
والله لنمنعهنّ
“Demi Allah, Aku akan melarang mereka”
Tanpa sempat Bilal bin Abdullah memberikan hujjah atas perkataanya. Ibnu Umar sudah terlanjur marah karena mendapati perkataan anaknya tersebut, bahkan muncul cercaan yang belum pernah orang mendengar dari lisannya yang mulia.
Tidak salah keduanya dalam hal ini, bilal seorang yang faqih memiliki pandangan tersendiri dari hadits yang disampaikan ayahnya, memperhitungkan dengan nash yang lain, dengan manfaat dan mudhorot hingga sampai pada pemahaman yang berbeda, namun pemahamannya itu tidak disampaikan dengan bahasa dan cara yang baik, sehingga timbul reaksi keras dari ayahnya. Wallahu a’lam. Semoga ada manfaat yang dapat diambil dari kisah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar