Ketenangan terpancar jelas dari air wajah Ja’far bin Abi Thalib saat datang menghadap panggilan Ashhamah bin Abjar yang bergelar Najasyi ‘sang raja Habasyah’.
“Agama baru apa yang kalian anut, yang menyebabkan kaum kalian terpecah menjadi dua. Kalian tidak masuk ke Agamaku (Nasrani Nasthuriyah), dan tidak pula masuk ke salah satu agama yang ada?”
Ja’far bin Abi Thalib yang ditunjuk sebagai juru bicara menjelaskan dengan gemilang “Wahai paduka raja dulu kami adalah masyarakat yang hidup dalam kejahilian, kami menyembah patung dan memakan bangkai, melakukan perzinaan, memutus tali silaturahim, mengganggu tetangga, dan yang kuat menindas yang lemah. Kondisi ini terjadi hingga Allah mengutus seorang rasul yang kami kenal dari nasab keturunannya, kejujurannya, amanah dan kesucianya. Dia mengajak kami hanya menyembah kepada Allah da meninggalkan apa yang telah nenek moyang kami lakukan, seperti menyembah berhala dan batu..”
Pembicaraan itu terus berjalan hingga menghasilkan putusan bahwa Islam tidak sepatutnya diusir dari bumi Habasyah.
Sia-sia sogokan yang diberikan untuk menghasut Najasyi agar mengusir umat Islam dari Habasyah. Pulanglah utusan itu, Amru bin Ash dan Abdullah bin Abu Rubi’ah kembali ke Makkah dengan berita kegagalannya dalam misi menghasutan
Hijrah ke Habasyah yang kedua ini menyimpan fakta bahwa permusuhan Islam dengan kafir Quraisy tidak semata karena mereka terganggu oleh Muhammad dan pengikutnya, tetapi kebencian itu sudah pada taraf ingin mematikan cahaya Allah.
Karena seandainya permusuhan ini hanya karena kebencian pribadi, maka seharunya mereka senang dengan perginya kaum muslimin dari Makkah, pengejaran dan penghasutan yang dilakukan kafir Quraisy menandakan bahwa musuh musuh Allah tidak akan pernah ridho kaum muslimin hidup aman dan tentram. Wallahu a’lam
Senin, 09 April 2018
Habasyah II : Negosiasi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar