Apa gerangan yang sedang terjadi?
Singa itu mengamuk, mengaung dan hendak menghajar orang. Ini diawali oleh seorang wanita mantan budak ‘Abdullah bin Jud’an At-Taimi yang mengadu padanya.
Hijrah yang pertama pada tanggal 5 rajab 615M merupakan ujung dari perihnya hati Rasulullah ﷺ, beliau terpukul dan teraniaya menyaksikan siksaan terus menghujani para sahabat sedang rasulullah ﷺ sendiri mendapat perlindungan dari Abu Thalib. Hari demi hari, bulan demi bulan tekanan mereka semakin keras kepada kaum yang lemah, semakin terasa sempit kehidupan mereka di Makkah.
“seandainya kalian pergi ke negeri Habasyah, karena negeri itu dipimpin oleh seorang raja yang tidak satupun dari rakyatnya yang terdzolimi dan bumi itu adalah bumi yang aman. Tinggallah kalian disana hingga Allah memberikan jalan keluar kepada kalian dari apa yang menimpa kalian”
Atas perintah rasulullah, berangkatlah rombongan yang terdiri dari 12 orang laki-laki dan 4 orang wanita itu menuju bibir pantai As-Syuaibah yang jaraknya 90km dari Makkah untuk menyebrang menuju Habasyah dan kemudian mendapat perlindungan disana..
Hijrah menjadi bagian penting dalam alur hidup para sahabat, dimana ketakutan dan rasa sakit memuncak mengancam dan memaksa untuk pergi menyelamatkan jiwa dan agama. Meninggalkan harta benda dan keluarga terkasih.
Tidak remeh keputusan hijrah dan pengorbanannya para sahabat. Bedakan hijrah para sahabat dengan hijrahnya kids jaman now yang sudah merasa shalih dengan beberapa helai jenggot, atau jilbab yang beberapa senti lebih panjang, yang dengan bangga ia memamerkannya di sosial media.
Wallahu alam, tidak bermaksud menyinggung..
Ketenangan terpancar jelas dari air wajah Ja’far bin Abi Thalib saat datang menghadap panggilan Ashhamah bin Abjar yang bergelar Najasyi ‘sang raja Habasyah’.
“Agama baru apa yang kalian anut, yang menyebabkan kaum kalian terpecah menjadi dua. Kalian tidak masuk ke Agamaku (Nasrani Nasthuriyah), dan tidak pula masuk ke salah satu agama yang ada?”
Cemas dan penasaran, itulah yang terbesit di benak Khadijah binti Khuwailid saat sang suami Muhammad pulang dalam keadaan menggigil dan ketakutan. “selimuti aku, selimuti aku” pinta Muhammad dalam takutnya, tanpa banyak bertanya sang istri lantas menyelimutinya. Begitulah Khadijah istri Rasulullah yang mulia, kecerdasan dan kasih sayangnya nampak oleh siapa saja yang melihatnya.
Kecerdasan membuat ia memendam rasa ingin tahunya, tak tega rasanya mengejar pertanyaan ketika suami sedang gemetar ketakutan. Khadijah, bersamanya hilang setengah kesulitan. Barulah setelah ketakutan itu hilang, dari lisannya yang mulia Nabi menjelaskan apa yang telah dialaminya.
“Aku benar-benar menghawatirkan diriku” Nabi membagi beban kepada istrinya
Khadijah berkata dengan lembutnya “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, karena kamu adalah orang yang menyambung silaturahim, membantu orang lain, memberi mereka yang tidak mampu, memuliakan tamu, dan membantu saat tertimpa musibah”
kemudian Khadijah membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal.
Khadijah adalah tempat Nabi berbagi masalah, tempat yang teduh saat hati terasa panas, tempat yang luas saat kesempitan menghampiri, sang istri adalah tempat dimana kepercayaan itu ada dan tempat untuk berbagi. Jika dewasa ini orang orang lebih suka pergi ke psikiater untuk berbagi dan menyelesaikan masalahnya, maka dimana pemeran khadijah pada hari ini?
Wanita mulia ini senantiasa menjadi sandaran nabi dalam lelahnya, hingga tahun-tahun kesedihan itu datang, 620 M tatkala mega merah itu mulai tampak, pertanda sang surya akan tenggelam, meninggalkan kesedihan dalam diri nabi, telah pergi sandarannya selama ini.. telah pergi cintanya... Khadijah Istri Muhammad
Ya Allah, Rahmatilah ibunda kami. Hanya kepada-Mu lah tempat bersandar.
Darah itu belum kering semua, membuat noktah-noktah merah berbeda dikulit hitam legamnya. Lelaki yang sekarat itu adalah Bilal bin Rabbah. Matanya tak lagi jelas melihat, entah sakit seperti apa yang ia rasakan, tubuhnya yang kurus bertulang-tulang itu terkoyak oleh siksa si majikan.
“Berhentilah wahai Umayah! Demi Lata, ia tidak akan disiksa lagi sesudah hari ini. Bilal adalah bagian dari kita, Ibunya adalah budak kita. Ia tidak akan rela menjadikan kita sebagai bahan pembicaraan dan bahan tertawaan kaum Quraisy sebab keislamannya” seru salah seorang yang kasian melihat Bilal.
Umayah pun juga sudah lelah menyika Bilal, seberat apapun dia menyiksa! Iman itu masih tegak disana. Hingga di ujung putus asanya.. angin segar itu datang. Abu bakar datang menawar budak Habasyah itu. Sumringah wajah Umayah, dia tau sekali, menjual Bilal lebih menguntungkan daripada harus membunuhnya.
Lelaki mulia itu meraih tangan Bilal, mengajaknya pada kemerdekaan dan kemuliaan. “Ambillah ia! Demi Lata dan Uzza, andai engkau hanya mau membelinya dengan satu keping emas pun, aku pasti memberikannya” kata Umayah mantan majikan Bilal. Celotehan sampah dari orang hina yang tidak perlu dijawab. Namun Abu Bakar mengerti sekali seni dalam berdakwah, untuk membesarkan hati saudaranya Abu bakar pun menjawab “Demi Allah! Andai kamu tidak mau menerima kecuali seratus keping emas, maka aku akan membayarnya!”
Hari itu Abu Bakar menyentuh hati Bilal dengan ucapannya, ucapan mulia yang mengangkatnya menjadi raja atas dirinya sendiri. Maka menjadi suatu yang mengherankan jika hari ini orang yang mengaku bermanhaj salaf namun sibuk mengkritik sana sini, sibuk menjatuhkan saudaranya.