Tahun 6 Hijrah, Ibunda Aisyah menuturkan kisah pilu yang ia alami
hari itu, miris memang. Ia difitnah berzina dengan lelaki yang sama-sekali
tidak pernah diajaknya bicara. Tidak pernah!
Perjalanan pulang dari perang Bani Musthaliq, Rasul menghentikan pasukan
untuk beristirahat beberapa malam, setelah dirasa cukup, rasul mengumumkan
untuk bersiap kembali melanjutkan perjalanan, naas, saat itu Aisyah yang
baru menyelesaikan kebutuhannya merasakan ada sesuatu yang hilang, apa yang
hilang? Kalung! Kalung berliontin batu permata itu hilang. Ia kemudian
kembali ke tempat ia mengerjakan kebutuhannya dan sibuk mencarinya.
Mengusap-usap pasir dengan bingungnya.. dan, ketemu.
Tapi sayang Aisyah sudah tertinggal, sendirian. “aku kemudian
membalut diriku dengan jilbab (menutup wajah) dan menunggu di tempat itu,
sekiranya mereka mengetahui aku tidak bersama mereka, mereka akan kembali
mencariku” tutur Aisya. Masih dalam kondisi tidak menyenangkan itu –menunggu-
Tiba-tiba
datang Shafwan bin Mu’athal As-sulami melintasinya, entah ini petaka ataukan
pertolongan, ia sendiri juga tertinggal karena keperluannya, Melihat wanita
berbalut kerudung itu ia terkaget lantas mendekat.
“Innalillahi Istri Rasulullah. Apa yang membuat anda tertinggal?” Ibunda Aisyah yang masih dengan penutup wajahnya tidak menjawabnya
sama sekali. Shafwan peka dengan sikap itu –tidak seperti lelaki pada
umumnya- lantas ia mendekatkan untanya dan membiarkan Aisyah naik kemudian
ia sendiri menuntun unta menyusul rombongan. Sejak itulah air mata Ibunda
Aisyah bercucuran, setelah sampai di Madinah fitnah ia berzina dengan Shafwan
derdengung cepat terbawa angin gurun pasir, orang-orang munafik dengan cepat
menyebarkan dan membumbuinya. Puncak kesedihannya ketika rasulullahpun seperti
mempercayai berita itu. Hari-hari itu hari tangis ibunda kita. Hingga Allah
ta’ala yang menunjukan kebenaran, dan kesucian Ibunda Aisyah.
Inilah hikmah yang Allah titipkan dalam kisah Ibunda Aisyah,
seorang yang menjaga kesuciannya, menutup wajahnya –berniqab-, dan tidak
berbicara kepada lelaki saja masih terfitnah berzina, dan suaminya ﷺ merasakan kekecewaan itu. Kalau dirimu ukhti, berjilbab sekenanya,
mengobrol dengan asyiknya dengan lelaki mana saja, sibuk kumpul sana kumpul
sini dan menuntut suamimu untuk percaya dan tidak cemburu? Aaaku berhenti
sayang, ku tak bisa lanjutkan.. Cinta ini.. bersamamu.. aku tak kan mampu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar