Selasa, 24 Juli 2018

Fitnah Ifki Ibunda Aisyah



Tahun 6 Hijrah, Ibunda Aisyah menuturkan kisah pilu yang ia alami hari itu, miris memang. Ia difitnah berzina dengan lelaki yang sama-sekali tidak pernah diajaknya bicara. Tidak pernah!

Perjalanan pulang dari perang Bani Musthaliq, Rasul menghentikan pasukan untuk beristirahat beberapa malam, setelah dirasa cukup, rasul mengumumkan untuk bersiap kembali melanjutkan perjalanan, naas, saat itu Aisyah yang baru menyelesaikan kebutuhannya merasakan ada sesuatu yang hilang, apa yang hilang? Kalung! Kalung berliontin batu permata itu hilang. Ia kemudian kembali ke tempat ia mengerjakan kebutuhannya dan sibuk mencarinya. Mengusap-usap pasir dengan bingungnya.. dan, ketemu.

Tapi sayang Aisyah sudah tertinggal, sendirian. “aku kemudian membalut diriku dengan jilbab (menutup wajah) dan menunggu di tempat itu, sekiranya mereka mengetahui aku tidak bersama mereka, mereka akan kembali mencariku” tutur Aisya. Masih dalam kondisi tidak menyenangkan itu –menunggu-   Tiba-tiba datang Shafwan bin Mu’athal As-sulami melintasinya, entah ini petaka ataukan pertolongan, ia sendiri juga tertinggal karena keperluannya, Melihat wanita berbalut kerudung itu ia terkaget lantas mendekat.

“Innalillahi Istri Rasulullah. Apa yang membuat anda tertinggal?” Ibunda Aisyah yang masih dengan penutup wajahnya tidak menjawabnya sama sekali. Shafwan peka dengan sikap itu –tidak seperti lelaki pada umumnya- lantas ia mendekatkan untanya dan membiarkan Aisyah naik kemudian ia sendiri menuntun unta menyusul rombongan. Sejak itulah air mata Ibunda Aisyah bercucuran, setelah sampai di Madinah fitnah ia berzina dengan Shafwan derdengung cepat terbawa angin gurun pasir, orang-orang munafik dengan cepat menyebarkan dan membumbuinya. Puncak kesedihannya ketika rasulullahpun seperti mempercayai berita itu. Hari-hari itu hari tangis ibunda kita. Hingga Allah ta’ala yang menunjukan kebenaran, dan kesucian Ibunda Aisyah.

Inilah hikmah yang Allah titipkan dalam kisah Ibunda Aisyah, seorang yang menjaga kesuciannya, menutup wajahnya –berniqab-, dan tidak berbicara kepada lelaki saja masih terfitnah berzina, dan suaminya merasakan kekecewaan itu. Kalau dirimu ukhti, berjilbab sekenanya, mengobrol dengan asyiknya dengan lelaki mana saja, sibuk kumpul sana kumpul sini dan menuntut suamimu untuk percaya dan tidak cemburu? Aaaku berhenti sayang, ku tak bisa lanjutkan.. Cinta ini.. bersamamu.. aku tak kan mampu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar