Kisah-kisah hebat terkadang
hanya lewat tanpa dapat kita memetik hikmah darinya, yang sebenarnya apabila
kita mampu sedikit saja merenunginya maka sekelebatan kisah tadi mampu
menjadi cambuk bagi kita untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan.
Begitu juga dengan kisah dari Uswatun hasanah kita, Nabi
Ibrahim As. Sebenarnya kisah ini berpusat pada keluarga Ismail As, yaitu
setelah meninggalnya Siti Hajar ibunda
Ismail, sedikit memberitahu saja, mungkin ada sejarah yang tercecer,
penemuan terbaru dari Muhammad Sulaiman Al-Manshurfuri menyebutkan bahwa Siti
Hajar bukanlah budak wanita yang hitam dan jelek seperti yang kita ketahui
sebelumnya, melainkan ia adalah wanita merdeka, putri Fir’aun yag dihadiahkan
pada Sarah karena mengetahui kemuliaan Sarah.
Kembali pada kisah keluarga Ismail, setelah wafat sang Ibunda, ia dinikahkan dengan seorang wanita dari suku
Jurhum, suku dari Yaman yang menetap bersama Ismail dan Hajar di Makkah. Tidak
lama setelah pernikahannya itu sang ayah Ibrahim As yang tinggal di Palestina
mengunjunginya di Makkah, namun pada kunjungannya kali ini Ibrahim tidak
menemukan Ismail, hanya ada Istri dirumahnya, kemudian ia menanyakan bagaimana
kabar mereka berdua, Istri Ismail mengeluhkan nasib mereka yang serba
kekurangan. Maka Ibrahim menitipkan pesan melalui istrrinya agar Ismail
mengganti palang pintu rumahnya. Setelah diberitau, Ismail mengerti akan
isyarat sang Ayah, lantas ia menceraikan istrinya dan menikah lagi dengan putri
Mudhadh bin Amru, pemimpin kabilah Jurhum.
Ibrahim As dalam kunjungan berikutnya kembali tidak mendapati
Ismail dirumahnya, hanya ada Istri, kemudian ia menanyakan bagaimana kabar
mereka berdua, Istri Ismail menjawab dengan memuji Allah. Lantas Ibrahim
menitipkan pesan agar Ismail memperkuat palang pintu rumahnya. Setelah
mendengar pesan ayahnya, membuat Ismail semakin mantap menjalahi keluarga
bersama Istri barunya.
Bagaimana tidak mantap? Ia memiliki istri yang pandai bersyukur..
apalagi jika istrinya cantik. MaasyaAllah.. bersama
wanita tersebut, Ismail dikaruniai 12 orang anak yang kesemuanya laki-laki.
Begitulah kira kira yang mau penulis sampaikan, benar bukan
muqaddimah di awal? bahwa serpihan kisah saja bisa menjadi cambuk bagi kita
dalam menjalani kehidupan ini. Hayoo ibuk ibuk segera bertaubat.
..... Sebelum diceraikan ....